Rabu, 11 Agustus 2010
Mempola Karakter Remaja
bentukan masa lalunya (pola asuh dan lingkungan). Benar adanya bila
dikatakan“Didiklah anak-anakmu, karena mereka diciptakan untuk zaman
yang berbeda dengan masamu duluâ€. Kondisi dan situasi boleh berbeda,
tetapi dalam hal-hal tertentu harus sama seperti takwa kepada Allah
SWT, taat pada orang tua, gigih dalam belajar dan seterusnya. Tampak
dalam dasa warsa terakhir ini, dimana persoalan dekadensi moral semakin
memprihatinkan –khususnya kaula muda, bukan orang tua-, mengapa
demikian ? Pertama, Karena di tangan pemudalah terletak masa depan
bangsa, akan menjadi apa dan dibawa kemana suatu negara, sepenuhnya
tergantung pada generasi mudanya. Kedua, Kenakalan orang tua terbatas
jumlahnya, dan usianya sudah tidak produktif lagi.
Kata
orang, usia remaja adalah usia mencari identitas diri dan pada masa itu
remaja akan mengalami berbagai tantangan dan hambatan, mulai dari
proses penyesuaian diri dengan lingkungannya, sampai tahap penemuan
sosok yang pas bagi pribadinya. Sedikit keanehan (cara berpakaian, gaya
omongannya) menjelang remaja itu merupakan hal biasa, yang tidak lazim
kalau kenakalan remaja itu sudah mengarah pada tindakan kriminal
(miniman minuman keras, narkoba, dsb).
Kenakalan remaja
merupakan mata rantai yang panjang, yang tak terpisahkan dengan elemen
lainnya. Sikap orang tua dan lingkungan akan mewarnai lembaran
kepribadiannya, karena mereka begitu rapuh dan rentan terhadap pengaruh
luar. Oleh karena itu, kalau berbicara soal pembentukan karakter
remaja, ada perbedaan yang cukup mendasar antara paradigma Islam dengan
teori lainnya. misalnya, Schopenhauer, Spinoza dan Lery Braille. Para
pakar ini berargumen bahwa keadaan baik-buruk anak manusia adalah
bawaan, ibarat anak domba yang jinak dan anak singa yang galak.
Keburukan
yang sudah tertanam dalam diri manusia, seakan tidak mungkin dapat
dirubah lagi, sama halnya dalam kebaikannya. Teori di atas, bila
ditinjau dari hukum agama maupun hukum logika, bahkan hukum realita
(berdasarkan eksperimen) tidak dapat diterima, alansannya : (1) Menurut
Agama Islam, berdasarkan firman Allah SWT “Dan diri serta
penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada diri itu
(jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang
yang mensucikan dirinya itu, dan sesungguhnya merugilah yang yang
mengotorinya†(Q: 91 : 7-10). Muhammad SAW juga menegaskan : Setiap
bayi dilahirkan berdasarkan fitrahnya (suci bersih), maka orang
tuanyalah yang akan menjadikan diri si anak memeluk agama selain agama
fitrah (Islam)â€.
(2) secara logika : Untuk apa Tuhan
menurunkan kitab dan mengutus para rasulNya ? mengapa pemerintah harus
repot-repot menentukan kurikulum dan peraturan, serta berpayah-payah
mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan perguruan tinggi ? demikian
pula, mengapa pemerintah harus repot-repot memilih dan menyeleksi
guru-guru yang berkualitas untuk menangani pendidikan dan pengajaran ?.
Bukanlah semua itu dimaksudkan untuk kepentingan pendidikan,
pengajaran, pembentukan moral dan meluruskan penyelewengan ? Kalau
sekarang ada gugatan yang mempertanyakan kualitas pendidikan nasional
seperti itu, itu bukan karena kurikulumnya tetapi karena orientasi
berpikirnya yang sudah melenceng dan beberapa hambatannya yang tidak
tertanggulangi !
Dan ketiga, dalam realita kehidupan pun
teori-teori tersebut tidak terbukti, banyak kasus membuktikan bahwa di
suatu tempat yang lingkungannya sangat rusak/bobrok, akhirnya menjadi
baik karena ada seorang yang membimbing, mengarahkan dan
mempengaruhinya. Secara akal, binatang saja dapat dididik dengan
berbagai macam tingkah laku secara khusus, dimana yang ganas menjadi
lunak dan penurut. Bagaimana dengan manusia yang justru mempunyai
psikis yang lebih komplek ? tentu lebih mudah diarahkan, lebih bisa
diajak bercanda, lebih mudah dibetulkan dan diluruskan. Dengan
demikian, kalau seseorang dididik dengan akhlak (perilaku yang baik),
dibekali ilmu pengetahuan, dibiasakan dengan perbuatan baik, tentu ia
akan tumbuh menjadi baik dan menjadi manusia yang sempurna. Sebaliknya,
kalau ia diabaikan dan dibiarkan dalam kebodohan, serta berbaur dalam
pergaulan yang rusak, maka tidak diragukan lagi ia akan menjadi rusak
pula.
Imam ghozali menyatakan, “Anak adalah amanah di pundak
orang tuanya. Kalbunya yang suci bersih layaknya mutiara yang tak
ternilai harganya. Bila ia dibiasakan dan dididik pada kebaikan, ia
akan tumbuh menjadi manusia yang baik dan berbahagia di dunia maupun di
akhirat. Kalau ia dibiasakan dan tumbuh dalam lingkungan yang jahat,
niscaya ia akan rusak dan menderita. Kalau sudah demikian keadaannya,
ia akan sukar untuk dididik dan diarahkanâ€.
Kenakalan remaja
yang selama ini diributkan, kebanyakan berpangkal dari perlakuan ibu
yang salah, seperti : Memanjakan anak, terlalu keras, dan tidak ada
perhatian. Dua peneliti, Elina Steele dan John Pollock pada tahun
’80-an dalam sebuah observasi besar, mereka menemukan sbb: 90 %
Gangguan kejiwaan pada remaja akibat perlakuan ibu, 8 % kesalahan ayah,
2 % karena perlakuan buruk ayah dan ibu. Beberapa faktor yang membuat
ibu bertindak seperti itu : Psikotik, egosentris, agresif, belum siap
menjadi ibu, dan toleransinya kurang terhadap frustrasi
Secara
teori, faktor sosial yang dituding mempengaruhi sikap ibu yang salah
adalah kemiskinan, namun justru ini tidak menonjol. Seorang ibu yang
terlalu sibuk, kurang pengetahuan dan pengalaman merupakan penyebab
terjadinya kelainan jiwa anak, sehingga mempermudah masuknya pengaruh
buruk pada diri si anak. Pada anak kecil penanganannya lebih mudah,
tetapi bagi yang dewasa agak susah karena basic trust pada orang lain
sudah rusak. Pangkal kacaunya hubungan ayah dan ibu beraneka ragam :
Kesal tidak karena mampu memenuhi tuntutan anaknya, bertikai dengan
suaminya. Hubungan alamiah antara ibu dan anak berlangsung sejak dalam
kandungan (cathexis). Nyatanya untuk menjadi baik/buruk, tidak dapat
lepas dari peranan seorang ibu, oleh karena itu Nabi bersabda “bahwa
sorga itu berada di bawah telapak kaki ibuâ€. Artinya, kalau ibu salah
memperlakukan anaknya baik secara psikis (pilih kasih) maupun fisik,
akibatnya anak akan mengalami gangguan kejiwaan berat dan ini membuat
si anak tercinta kelak akan menjadi duri di tengah-tengah
masyarakatnya, naudzu billah min dzalik.
Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang Humanis
Tetapi, mari kita lihat realita prakteknya ! Hingga saat ini, pada beberapa sekolah masih ditemukan kegiatan MOS yang masih terjebak dalam praktek perpeloncoan, yang kerapkali mengabaikan aspek-aspek kemanusiaan, seperti mewajibkan para calon siswa untuk mengenakan atribut dan membawa berbagai kelengkapan yang “aneh-aneh”. Jika melanggar ketentuan-ketentuan yang “aneh-aneh” itu, mereka harus siap-siap menerima sanksi tertentu, bahkan mungkin ada pula yang disertai dengan pemberian hukuman yang bersifat fisik.
Boleh jadi, akibat dari praktek orientasi semacam itu bukannya menjadikan para calon siswa terpahamkan dan dapat memperoleh well adjustment, namun malah mungkin justru sebaliknya, keruntuhan harga diri dan kerusakan mental yang mereka dapatkan ! Tentu saja, hal ini merupakan awal yang buruk bagi kelangsungan belajar siswa ke depannya.
Jika merujuk pada pemikiran Irwin A. Hyman dan Pamela A. Snook (1999), praktek orientasi semacam itu sudah menunjukkan ciri-ciri dari sekolah berbahaya (dangerous school)
Kegiatan orientasi pada dasarnya merupakan sebuah proses pembelajaran dan apabila dikaitkan dengan beberapa prinsip pembelajaran modern yang saat ini sedang dikembangkan di Indonesia, seperti pembelajaran menyenangkan, pembelajaran humanistik, pembelajaran demokratis, dan sejenisnya, maka model orientasi yang bercirikan pengingkaran hak-hak martabat kemanusiaan seperti di atas agaknya menjadi sangat kontradiktif dan kontraproduktif.
Oleh karena itu, sudah waktunya perlu dilakukan evaluasi terhadap praktek orientasi semacam itu untuk segera digantikan dengan model-model kegiatan orientasi yang lebih humanis. Kegiatan orientasi bukanlah ajang untuk menunjukkan superioritas senior terhadap yunior, dan bukan pula ajang untuk melampiskan motif-motif destruktif yang terselubung. Tetapi justru merupakan upaya untuk menyambut hangat dan penuh kecintaan terhadap para calon siswa agar mereka merasa betah sekaligus memiliki kebanggaan dan keyakinan bahwa dia benar-benar telah memilih sekolah yang tepat bagi dirinya.
Lantas, seperti apakah MOS yang humanis itu ? Kegiatan MOS yang humanis setidaknya memiliki beberapa ciri, diantaranya adalah :
- Memandang calon siswa sebagai sosok manusia utuh dengan segenap potensi kemanusiaan yang dimilikinya,. yang patut dihargai dan dihormati keberadaannya. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya jika masa orientasi ini digunakan pula sebagai moment untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi potensi-potensi yang dimiliki calon siswa untuk dikembangkan lebih lanjut.
- Pembimbingan dilakukan dalam suasana hubungan kemitraan yang sejajar dan penuh keakraban, baik antara calon siswa dengan calon siswa, maupun calon siswa dengan warga sekolah lama, termasuk dengan para guru.
- Reinforcement perilaku yang lebih mengedepankan pemberian ganjaran (reward) dan sedapat mungkin menghindari bentuk hukuman fisik maupun psikis (punishment).
- Metode kegiatan dikemas secara kreatif dalam bentuk dinamika kelompok yang menyenangkan dan lebih mengedepankan pada aktivitas para calon siswa..
Memang bukanlah hal yang mudah untuk mengganti model kegiatan orientasi ke arah yang lebih humanis, apalagi jika kesalahkaprahan dalam praktek kegiatan orientasi sudah berlangsung sejak lama dan dilakukan secara turun temurun. Akan tetapi kita percaya bahwa dengan komitmen, kesadaran dan kecerdasan dari seluruh warga sekolah kiranya bukan hal yang mustahil untuk dapat mewujudkannya.
=================